Maros, JagadNews.online
Wajahnya berseri dan memancarkan cahaya keimanan akhirnya nenek Jumaria (70 tahun) warga Kabupaten Maros, Prov Sulsel menjadi Ikon Haji 2026: Dengan menabung di “Ember Tua” selama 20 tahun, nenek Jumaria kini kisahnya mendunia hingga di dokumentasikan Kerajaan Arab Saudi.
Di sebuah rumah sederhana di pelosok terpencil Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tersimpan sebuah ember tua di bawah kolong tempat tidur.
Ternyata di ember tua tersebut membawa keberkahan.
Di ember tua tersebut nenek Jumaria P Sire Said (70) tetsimpan mimpi besarnya selama hampir dua dekade menambung hingga memenuhi panggilan haji ke Mekkah.
Hidup seorang diri tanpa suami apalagi anak di masa tuanya, nenek Jumaria tetap teguh memegang pesan dari orang tuanya:
“Kalau kau punya uang, pergilah ke Tanah Suci. Pergi mako karena saya sudah tidak bisa pergi.” ujar Nenek Jumaria menirukan ucapan orang tuanya.
Pesan itu menjadi tekad yang membara dalam perjuangannya.
Sedikit demi sedikit uang hasil menggarap kebun tetangga dan sawah peninggalan orang tua ia sisihkan ke dalam ember tua yang ditutup kain-kain lusuh agar tak diketahui orang lain.
“Kadang Rp500 ribu, kadang Rp700 ribu. Kadang juga cuma Rp20 ribu atau Rp50 ribu,” ujarnya terharu.
Selama hampir 20 tahun, ia hidup sangat sederhana dan menjaga tabungannya agar tetap utuh. Saat pagi menyingsing nenek Jumaria sudah bergegas ke sawah dengan hanya membawa setengah liter air minum.
Untuk makan, ia cukup mengambil daun ubi di sekitar rumah dan memasaknya seadanya. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, ia memilih bertahan dengan apa yang ada daripada menyentuh uang tabungan hajinya.
Semua rasa lelah, lapar, dan peluh itu akhirnya terbayar ketika langkahnya benar-benar menginjak Kota Nabawi Madinatul Munawwarah.
“Saya suka di sini, tenang dan kami berdoa semoga panjang umur dan bisa ke sini lagi,” ucapnya penuh haru.
Tak hanya kisah perjuangannya yang menginspirasi, kondisi fisik nenek Jumaria juga membuat banyak orang kagum.
Di usia 70 tahun, ia dinyatakan sangat sehat dan disiplin mengikuti manasik haji lebih dari 80 kali pertemuan tanpa pernah absen.
Ketua Kloter UPG 14, Siti Hawaisyah, mengungkapkan bahwa kartu kesehatan nenek Jumaria bahkan tidak memiliki tanda risiko serius.
“Beliau mandiri, kuat sekali,” ujarnya.
Rekan sekamarnya di Tanah Suci pun mengaku kewalahan mengikuti langkah sang nenek. “Saya jalan cepat saja masih ditarik sama beliau,” cerita Marwati sembari tertawa.
Kisah luar biasa ini membuat Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia merekomendasikan nenek Jumaria sebagai Ikon Haji Indonesia 2026.
Perjuangannya bahkan menarik perhatian dunia internasional. Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengangkat kisah hidupnya dalam dokumentasi Program Makkah Route dan mengunggahnya di akun Instagram resmi @makkahroute.
Proses syuting di kampung halamannya pun menjadi tontonan haru bagi warga desa yang berbondong-bondong datang menyaksikan perjuangan seorang nenek sederhana yang membuktikan bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kemewahan.
Nenek Jumaria mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya soal kemampuan materi, tetapi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan yang dijaga bertahun-tahun.
Di tengah zaman ketika banyak orang mudah menyerah karena keadaan, kisah Nenek Jumaria hadir sebagai pengingat: bahwa doa yang dijaga dengan kerja keras dan kesabaran, pada waktunya akan menemukan jalannya menuju langit. Semoga menjadi Hajjah Mabrur nenek Jumaria dan sehat selalu.(*)
