Oleh: Munawir Kamaluddin

Ada zaman yang berlari begitu cepat, hingga manusia sendiri tertinggal dari makna hidupnya. Kecerdasan meningkat, tetapi kebijaksanaan meredup. Teknologi melesat tinggi, namun akhlak berjalan tertatih, bahkan terkadang terabaikan.
Kita menyaksikan generasi yang pandai berbicara, tetapi kurang santun, cepat menilai, tetapi lambat memahami, berani menghakimi, tetapi enggan mengoreksi diri. Di ruang digital, kata-kata meluncur tanpa kendali, menyerang tanpa wajah, menuduh tanpa bukti, membuka aib tanpa rasa. Maka lahirlah ironi, dimana teknologi memudahkan hidup, tetapi manusia justru memperumit kemanusiaannya sendiri.
Di titik inilah pertanyaan itu menjadi sangat penting, apakah pendidikan hari ini benar-benar membentuk manusia, atau hanya mencetak kecerdasan tanpa jiwa?
Tema diatas “teknologi boleh melaju, akhlak tak boleh layu” bukan sekadar slogan, ia adalah peringatan. Teknologi hanyalah alat, tetapi akhlak adalah arah. Ketika alat melaju tanpa arah, yang lahir bukan kemajuan, melainkan kerusakan yang terstruktur.
Allah SWT. mengingatkan:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, tetapi lalai terhadap kehidupan akhirat.” (QS. Ar-Rum: 7)
Ayat ini seperti cermin zaman: cerdas secara teknologi, tetapi lalai secara spiritual.
Di dunia pendidikan, kita tidak hanya melihat prestasi, tetapi juga luka. Kasus bullying, kekerasan, dan intoleransi menjadi alarm keras bahwa ada yang keliru. Apakah kita terlalu sibuk mengejar angka, hingga lupa menanamkan makna? Apakah guru hanya diminta mengajar, tetapi tidak diberi ruang untuk mendidik?
Padahal Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Akhlak bukan pelengkap, ia adalah inti pendidikan. Namun hari ini, di balik gemerlap teknologi, ada jiwa-jiwa yang sepi. Mereka terhubung, tetapi kehilangan arah. Mereka bebas, tetapi kosong. Bukankah ini tanda bahwa ilmu tanpa nilai hanya melahirkan kehampaan?
Allah SWT. berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Di sinilah peran guru menjadi sangat agung. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga arah generasi. Namun, sudahkah mereka dimuliakan sebagaimana mestinya? Sudahkah kesejahteraan mereka sebanding dengan amanah yang dipikul?
Umar bin Khattab RA. mengingatkan:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Pertanyaan ini bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk sistem pendidikan kita. Kita tidak bisa menghentikan teknologi, tetapi kita wajib mengarahkan manusia. Pendidikan harus kembali pada fondasinya, yakni akhlak, nilai, dan kemanusiaan. Teknologi harus menjadi alat yang dituntun oleh hati, bukan menggantikannya.
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
إِصْلَاحُ الْقَلْبِ أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ
“Perbaikan hati adalah akar dari segala kebaikan.”
Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni, tetapi panggilan nurani. Jika hari ini kita gagal menanamkan akhlak, maka esok kita akan kehilangan arah. Dan saat itu, teknologi tidak akan menyelamatkan, ia justru bisa mempercepat kehancuran.
Maka mari kembali kepada nilai, kepada akhlak, kepada pendidikan yang memanusiakan manusia.
Karena pada akhirnya, bukan kecanggihan yang akan menjaga dunia ini, tetapi akhlak yang akan menyelamatkannya.(*)

Penulis : Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *