Oleh: Fawzan Suma
Setiap bulan Agustus, suasana kemerdekaan begitu terasa. Jalan-jalan dihiasi bendera Merah Putih, lagu-lagu nasional terdengar di berbagai tempat, dan masyarakat berkumpul untuk mengikuti beragam perlombaan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan melalui lomba-lomba 17-an?
Lomba makan kerupuk, balap karung, lari karung dengan karung terikat memakai helm, makan kerupuk tanpa tangan, lari dengan wajah tertutup, memasukkan pensil ke botol, pecah balon, panjat pinang, hingga berbagai permainan lainnya telah menjadi tradisi yang melekat dalam perayaan kemerdekaan. Semuanya terlihat sederhana, menyenangkan, dan mampu menghadirkan tawa serta kebersamaan.
Tetapi di balik kemeriahan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah sebagian dari tradisi itu tanpa sadar masih menggambarkan budaya yang lahir dari pengalaman penjajahan?*
Sebagian lomba 17-an menampilkan peserta dalam kondisi berdesakan, berebut, saling mendahului, bahkan terkadang menjadikan kesulitan sebagai tontonan. Panjat pinang, misalnya, sering dimaknai sebagai simbol perjuangan dan gotong royong. Namun, jika hanya dimaknai sebagai perebutan hadiah, nilai filosofisnya dapat kehilangan makna.
Lebih jauh, beberapa bentuk lomba tersebut juga dapat dibaca sebagai jejak sosial masa penjajahan, ketika rakyat hidup dalam keterbatasan, berebut sumber daya, dan dipaksa menghadapi situasi yang tidak setara. Dalam konteks itu, permainan-permainan yang kini dianggap seru-seruan sebenarnya bisa dipahami sebagai representasi simbolik dari pengalaman kolektif masyarakat Indonesia di masa kolonial, yang kemudian diwariskan sebagai bentuk hiburan sekaligus pengingat tidak langsung atas kerasnya kehidupan di bawah penindasan.
Masalahnya bukan pada lombanya
Masalahnya adalah ketika kita hanya mewarisi bentuknya, tetapi melupakan nilai historis yang seharusnya diwariskan.
Karena itu, sudah saatnya kita merubah konsep lomba 17-an menjadi lebih edukatif dan bermakna. Lomba tidak hanya menjadi ajang tawa dan hiburan, tetapi juga ruang belajar yang menumbuhkan karakter bangsa.Kita bisa menghadirkan lomba-lomba yang melatih literasi, kreativitas, pemecahan masalah, kepedulian sosial, hingga inovasi—tanpa kehilangan semangat kebersamaan yang menjadi ruh perayaan kemerdekaan.
Dengan begitu, kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan tubuh yang bergerak, tetapi juga dengan pikiran yang bertumbuh. Seperti sungai yang terus mengalir, kemerdekaan harus dirawat agar tidak mengering menjadi sekadar ritual tahunan yang kehilangan makna. Ia harus dijaga seperti api kecil yang terus disulut, agar tetap menjadi cahaya bagi generasi berikutnya.
Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada rutinitas tahunan. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk membangun manusia yang berani berpikir, mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, dan memiliki tanggung jawab terhadap bangsanya.
Lomba 17-an tetap dapat menjadi tradisi yang menyenangkan. Namun, akan jauh lebih bermakna jika setiap perlombaan membawa pesan pendidikan: sportivitas, gotong royong, kreativitas, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama.
Sebab, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga keberanian untuk melepaskan diri dari pola pikir yang tidak lagi relevan.
Jangan sampai setiap tahun kita meneriakkan kata merdeka, tetapi hanya mengulang tradisi tanpa pernah bertanya apa maknanya.
Mari merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan perlombaan, tetapi juga dengan memerdekakan cara berpikir dan merawatnya seperti taman yang harus terus disiram agar tetap tumbuh subur di hati setiap generasi. Dirgahayu Republik Indonesia.(*)
Penulis : Guru SMAN 13 Gowa
