Oleh : Fawzan Suma

Kemerdekaan yang kita rayakan setiap 17 Agustus bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan dalam merebut kebebasan.

Kemerdekaan juga harus dimaknai sebagai kesempatan untuk membangun manusia Indonesia yang berpengetahuan, berkarakter, kritis, dan mampu menentukan masa depannya.

Dalam dunia pendidikan, semangat kemerdekaan seharusnya menjadi momentum restorasi cara kita mendidik dan pendidikan tidak cukup hanya memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik.

Pendidikan harus membebaskan mereka untuk berpikir, bertanya, mencoba, menemukan, dan berkembang sesuai potensinya.

Menjadi guru memang membutuhkan keikhlasan. Namun, tidak cukup hanya dengan ikhlas untuk mencerdaskan bangsa.Guru juga harus kompeten.

Keikhlasan memberikan ketulusan dalam menjalankan pengabdian, sedangkan kompetensi memastikan pengabdian tersebut dilakukan dengan pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab profesional.

Guru yang kompeten bukan sekadar guru yang menguasai materi pelajaran.Ia mampu memahami karakter peserta didik, memilih strategi pembelajaran yang tepat, memanfaatkan teknologi, melakukan asesmen secara adil, serta terus belajar mengikuti perubahan zaman.

Semangat kemerdekaan seharusnya mendorong guru untuk melakukan refleksi: apakah cara kita mengajar masih relevan?

Apakah peserta didik hanya dituntut menghafal, atau sudah diberi ruang untuk berpikir dan berkarya?

Apakah sekolah benar-benar menjadi tempat yang memerdekakan potensi anak?

Restorasi pendidikan dimulai dari keberanian guru untuk terus berbenah.Guru tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah lama mengajar.

Sebaliknya, pengalaman harus menjadi modal untuk terus meningkatkan kompetensi dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Karena itu, di momentum 17 Agustus ini, mari kita maknai kemerdekaan bukan hanya dengan upacara dan perlombaan, tetapi juga dengan memperbarui komitmen dalam mendidik.
Ikhlas untuk mengabdi. Kompeten untuk memberi arti.

Terus belajar untuk memerdekakan generasi.Sebab mencerdaskan bangsa adalah amanah, dan amanah membutuhkan hati yang tulus sekaligus kemampuan yang terus diasah.

Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka dalam berpikir, merdeka dalam belajar, dan merdeka dalam bertumbuh.(*)

Penulis : Guru SMAN 13 Gowa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *