Oleh : A.Muhammad Yunus
Sinjai harus terawat, keramahan lingkungan tak boleh terabaikan dan menjaga keseimbangan ekologis agar taman hijau (green landscape) tetap lestari.
Sinjai negeri subur dan makmur, terpendam potensi kekayaan hayati yang tak bisa di bayar sebesar apapun nilai materi sebab kekayaan itu lahir dari kultur budaya masyarakat yang taat hukum adat yakni, menjunjung nilai etika, memelihara dan merawat kerukunan, kebersamaan dan kedamaian serta ketenteraman.
Sejenak kita merenung Sinjai masa lalu, buminya indah, pohonnya rindang hijau bahkan sebelumnya ada titik yang tak pernah tersentuh tangan manusia, kini perlahan akan di bidik investor dan pemilik modal sebab daerah tersebut konon memiliki kekayaan, termasuk cadangan emas, serta hasil bumi lainnya, tetapi sudikah kita membiarkan perusahaan mengeruk kekayaan alam dengan dalih mengejar profit tapi membiarkan ekosistem lingkungan kita rusak.
Peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat itu harus tetapi di sana juga ada warisan leluhur yang harus di jaga ada hajat yang patut ditunaikan dan ada hak masyarakat yang tak lain adalah hak hidup.
Kaitannya dengan bencana alam di ujung Indonesia, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, di Bumi Rencong Aceh kini sudah porak-poranda ragam infrastruktur telah hancur, manusia tergilas lumpur bercampur bebatuan hingga tertelan alam, mati, syahid serta hilang.
Demikian pula, Sumatera Utara dan Sumbar deforestasi dan pembalakan liar yang menjadi salah satu sumber pemicu kemurkaan alam, penambangan dan industri sawit tak mampu terbendung, cukuplah ini menjadi i’tibar dan membuka mata batin kita semua. Sisi gelapnya agar tak lagi peristiwa itu terulang dan saatnya taubat nasuha dan membasuh luka kezaliman khususnya ‘pemimpin’ yang sadar atau tidak melakukan kealpaan dan kesalahan.
Sebagai putra Sinjai, ini hanyalah himbauan moral agar daerah yang berjuluk Bumi Panrita Kitta, yang religius, aman, tenteram dan damai tak lagi terusik dan tergoda dengan kemewahan gaya hidup hedon, tajir-melintir tapi berakhir kesengsaraan.
Ayo bersatu hijaukan Sinjai, jaga alamnya lestarikan pohonnya nikmati hasilnya apa adanya dan tetap hidup berdampingan.
Saat penulis menghabiskan masa kecil pada dekade 1990an kota Sinjai tak pernah di terjang banjir, sebab alam masih akrab dengan kita, tapi seiring perjalanan masa, air tetap pada sifatnya mencari titik rendah, alur sungai tak mampu lagi menampung debit air akibat sedimentasi juga normalisasi sungai yang jarang di lakukan.
Mari bersatu hijaukan Sinjai, pelihara lingkungan, lestarikan alam, berdayakan potensi dan tingkatkan ekonomi kerakyatan dengan tidak merugikan masyarakat.
Pembangunan dan kemajuan suatu daerah itu penting tetapi tidak harus merugikan dan menyengsarakan rakyat ada rambu dan mekanisme yang mesti di patuhi agar keberlangsungan hidup dalam tatanan masyarakat tak terabaikan.
Masyarakat Sinjai yang di kenal religius, ramah dan menjunjung nilai moral serta hidup yang damai tentu tak ingin jika ada yang mengusik daerahnya bahkan punya sikap keberanian untuk membela hak-haknya, agar Sinjai tidak di telan dan korban dari sistem.
Kita tidak ingin daerah kita diatur oligarki, pemburu rente serta tidak menghendaki kelompok tajir merajalela menguasai kekayaan kita, sementara di sekitar kita banyak kaum marginal yang butuh perhatian, bukan hanya soal ekonomi tetapi juga aspek pendidikan yang merata.
Eksplorasi apalagi penambangan (illegal mining) serta pembalakan liar yang bisa berakibat hancurnya ekosistem lingkungan harus kita tolak.
Sinjai adalah Sulawesi Selatan bahkan Indonesia, punya motto Bersatu maka masyarakat Sinjai harus bersatu dalam sikap dan tindakan untuk merawat warisan leluhur, agar anak cucu kelak di kemudian hari bisa menikmati kekayaan alam, jayalah Sinjaiku dan Sinjaimu.(*)
Penulis: Wartawan dan Putra Sinjai
