Oleh : A.Muhammad Yunus
Secara historis Indonesia negara paling kaya di dunia.
Di alam Indonesia inilah segala hasil bumi terpendam di daratan penuh kekayaan di lautan pun demikian, namun mengapa alam ini murka?
Jawabannya karena manusia tidak pandai bersyukur dan tidak pernah merasa cukup, sebab pada diri manusia memang tidak akan pernah puas, hingga makhluk mulia itu masuk dalam lubang kubur.
Alhaqumuttakasuruun, hattadzultulmaqabir, yang artinya bermegah-megah dalam mengejar dunia, hingga melalaikannya, sampai kamu masuk ke liang kubur.
Surah Attakatsur ini turun di Makkah sehingga di kategorikan ayat-ayat makkiyah yang membahas soal aqidah dan keesaan Allah SWT.
Akan halnya bencana alam yang melanda, Bumi Andalas sebutan pulau Sumatera, tragedi alam yang memilukan dan tragis ini telah mencabik tiga provinsi di jazirah barat Indonesia, yakni, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Bencana tersebut telah menelan nyaris ribuan jiwa, termasuk ratusan korban yang belum di temukan, infrastruktur jalan dan jembatan juga hancur berantakan, bahkan rumah dan pemukiman penduduk yang tak bisa terhitung lagi jumlahnya hancur terbawa air bah yang terseret bersama potongan kayu gelondongan, ribuan hektar areal pertanian rata dan penuh dengan tumpukan lumpur bercampur pepohonan, kini alam yang tadinya hijau menjadi hamparan lumpur penuh bebatuan.
Selain itu, fasilitas pemerintah, sekolah hingga rumah ibadah juga tak luput dari bencana, populasi dan binatang yang di lindungi pemerintah juga terdampak dan mati karena akibat bencana yang Allah turunkan karena ulah tangan manusia.
Tidak bisa di pungkiri ini sebuah fenomena alam yang mengakibatkan bencana ekologis dan hidrometerologi akan tetapi tak lepas dari hukum kausalitas, natural of law.
Bencana dan peristiwa alam datang tanpa sebab, itu impossible, akbatnya bukan hanya makhluk berdosa yang terdampak bayi tak berdosa pun harus merasakan bahkan terpisah dengan orang tuanya, karena itu peristiwa mengerikan ini tak perlu terjadi lagi.
Dalam Kalam Ilahi di sebutkan pada surat Ar Rum ayat 41 berbunyi Dzaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas, yang artinya telah nampak kerusakan di darat dan di laut sebabkan karena perbuatan tangan manusia.
Sebuah renungan buat siapa saja, termasuk para pemimpin sekarang dan masa lalu, sebab hal ini terjadi bukan kebetulan tetapi ini rentetan peristiwa yang berproses, sebab ada titik tertentu di kawasan tersebut terjadi konsesi lahan termasuk hadirnya mega proyek industri sawit serta penambangan yang nyaris di pastikan tidak mengindahkan ekosistem lingkungan.
Sekarang tak perlu lagi saling menyalahkan, namun siapapun yang terlibat dan terbukti dalam aktifitas pembalakan liar serta mengeksploitasi secara besar-besaran hasil hutan maka proses hukum secara adil jawabannya.
Jangan mengejar dunia untuk bermegahan tapi mengorbankan jiwa-jiwa tak berdosa, biarkanlah hutan dan gunung tetap hijau, biarkan kayu dan pepohonan berdiri tegak agar alam tetap bersahabat, hingga generasi bisa menikmatinya dan jangan membuat peta hitam dalam sejarah kemakmuran bangsa.
Semua stakeholder bergerak bahkan upaya pemulihan bencana di pimpin langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Tercatat, pasca kejadian, Presiden Prabowo Subianto yang didampingi petinggi negeri termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin, Panglima TNI, Kapolri serta sejumlah Kabinet Merah Putih hadir di wilayah bencana yang kedua kalinya mendarat di Bumi Rencong Aceh.
Presiden menegaskan agar proses pemulihan secepatnya di lakukan dan menunjuk langsung Kasad TNI bertanggung jawab yang dibantu semua pihak.
Semua elemen bangsa pun turut berduka, rasa iba, simpati dan empati di wujudkan dengan menggalang donasi bantuan guna meringankan para korban bencana.
Alam murka karena ulah manusia, saatnya penduduk negeri ini ‘taubat’ para pemimpin juga harus mengatakan yang benar itu haq, yang bathil itu kezaliman, semoga bangsa ini tetap dalam lindungan Allah SWT.
Kita lahir karena hukum, hidup juga di atur hukum serta kembali harus di antar hukum, sehingga hukum tetap bertaji dan penegaknya harus taat hukum.(*)
Penulis : wartawan & Warga HIMMAS
