Makassar, JagadNews.online
Polemik pengunduran diri Kepala SMA, SMK di Sulsel sepekan terakhir ini seolah diluar nalar dan menorehkan tinta hitam perjalanan dunia pendidikan nasional.
Ada banyak cerita sedih yang terlontar dari kepala sekolah sebagai isyarat belum bersedia meletakkan ‘tahta’ kepala sekolah, tapi nasi sudah jadi bubur mereka tak punya daya, pikiran mereka gamang akhirnya membubuhi tanda tangan bermaterai di atas format, ini lagi-lagi akibat dalih instruksi pimpinan yang tidak mampu dipecahkan pikiran yang jernih.
Salah satu Kepala SMK di Sinjai saat dikonfirmasi media ini dengan polosnya menuliskan curahan hatinya (curhat) melalui chatnya pada Minggu, 7 Juni 2026.
Kepala sekolah tersebut mengatakan, awalnya saya buat pernyataan mundur karena adanya instruksi tapi saat kami menghadiri pertemuan di Kantor Inspektorat Daerah Sulsel pada sabtu 6 Juni 2026 dan mendengarkan penjelasan Pokja Hukum Disdik Sulsel bahwa yang melewati dua periode kepala sekolah maka tidak perlu membuat pengunduran diri karena itu sudah otomatis berakhir, karena itu saya tidak jadi memasukkan pengunduran diri, tulisnya melalui chatnya.
Dia juga mengatakan bahwa, teman-teman kepala sekolah luar biasa kinerjanya selama ini dan terus mendukung Kadis dan hasilnya alhamdulillah baik-baik saja, kok tiba-tiba di suruhki mundur kodong, maunya dikasi pembinaan dulu supaya kedepan kalau kinerja tidak bagus baru diganti atau dimutasi, tulisnya lagi.
Insya Allah saya purnabakti 1 Januari 2027 mudah-mudahan masih saya habiskan-ji periodeku di sekolah supaya program sekolah bisa tuntas sampai akhir masa jabatan, ujarnya memelas.
Tapi kalau harus diganti yah apa boleh buat kita terima saja dengan baik, tuturnya.
Menurutnya, katanya juga sudah di aplikasi memberhentikan nanti secara otomatis, ujarnya menirukan.
Mudah-mudahan supaya bisa tuntas jabatan sampai akhir, imbuhnya.
Demikian juga salah satu kepala SMA di Bone mengatakan kaget mendengar informasi yang mengatakan kepala sekolah diminta mundur.
Harusnya seorang pimpinan melindungi dan membimbing kita kalau ada kekeliruan dan bukannya kita dibina justru diminta menanggalkan jabatan kepala sekolah.
Sementara di Bulukumba seorang kepala sekolah saat di tanya soal pengunduran diri, hanya menjawab dengan datar.
Kepala SMK tersebut hanya mengiyakan hal itu sembari mengatakan kami lagi mengurus orang tua yang lagi sakit.
Benar, informasi tersebut, tapi saya fokus dulu urus orang tua di rumah sakit, ujarnya.(yun)
