Makassar, JagadNews.online
Sepekan terakhir ini hangat di perbincangkan soal pengunduran diri sejumlah kepala SMA di Sulsel.
Di sejumlah platfom media dan jagad maya masalah ini cukup menyita perhatian masyarakat lebih khusus insan pendidikan.
Sejumlah pakar pendidikan juga ikut menyoroti hal ini dan kali ini suara PGRI pusat juga memberi komentar.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI Pusat) Prof.Dr.Unifah Rosyidi, M.Pd melalui saluran telepon kepada media ini mengatakan bahwa, sebenarnya sih aku belum tahu persis ini masalah, akan tetapi kami ingin menegaskan bahwa jangan ada pemaksaan kehendak, apalagi sekarang zaman keterbukaan nggak boleh ada tekanan macam- macam, ujarnya kepada media ini usai melaksanakan tugas di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan Rabu, 10 Juni 2026.
Yang namanya kepala sekolah itu sebuah proses dan prestasi yang diperoleh melalui sebuah sistem yang telah diatur apalagi kita ASN tidak boleh terlibat politik praktis seraya menambahkan saya juga baru mendengar sih mas, jangan ada tekanan apapun mas, ungkap Guru Besar Manajemen Pendidikan itu.
Biarlah masalah ini ditangani serius pihak pemerintah bersama anggota DPRD setempat agar cepat mendapat solusi, sehingga proses pendidikan berjalan dengan baik, imbuh Prof Unifah yang menyelesaikan Program S3 FISIP Universitas Indonesia itu.
Dari data yang dihimpun media ini terungkap bahwa format/dokumen yang di tandatangani kepala sekolah untuk mengundurkan diri tertulis pengunduran diri sebagai kepala sekolah terhitung 2 Januari 2026, sementara kepala sekolah resmi tanda tangan bermeterai pada tanggal 2 Juni 2026.
Dalam format tersebut juga tertulis alasan pengunduran diri adalah untuk memberikan kesempatan kepada rekan guru yang punya kapabilitas dan jarak tempat tugas dan tempat tinggal jauh sehingga pelaksanaan tugas sehari-hari tidak maksimal.
Kedua point alasan pengunduran diri di atas tersebut membuat banyak kepala sekolah jadi korban dan harus menelan pil pahit.
Permintaan kepala sekolah untuk mundur menyebar dihampir semua kabupaten termasuk Bulukumba, Bantaeng Sinjai, Bone, Sidrap serta daerah lainnya meski juga ada kepala sekolah tetap bertahan untuk tidak mundur.
Sidrap menurut informasi sedikitnya ada enam kepala SMA, Sinjai kurang lebih 10 kepala sekolah mundur
Kami kaget dan prihatin atas teman kepala sekolah yang diminta mundur, kasihannya kodong, ungkap sumber itu.
Kadisdik Sulsel yang di konfirmasi media ini memilih diam dan tidak ada tanggapan.(yun)
