Makassar, JagadNews.online
Keriuhan mundurnya secara massal kepala SMA, SMK di Sulsel kian memicu spekulasi beragam, ada yang menilai bahwa ini bargaining demikian juga dugaan konflik kepentingan.
Pensiunan senior ASN Disdik Dr.H.Muliono Caco menjelaskan bahwa soal pengunduran kepala sekolah makin hangat.
Menurut Muliono, yang tepat itu adalah pergantian kepala sekolah diisi para bakal calon kepala sekolah (BCKS) yang lolos dan bersyarat, jika di desak mundur itu tidak elegan bahkan menjadi bumerang dan ibarat menyulut api dalam sekam ujar pria yang juga identik dengan doyan memakai kacamata.
Soal desakan mundur kepala sekolah, mantan Korwas Sulsel ini mengatakan, cukup dibuka satu persatu hasil penilaian kinerja, tentu yang rendah kinerjanya dan ada unsur pelanggaran beratnya, saya kira itu yang tepat diganti dari hasil penggodokan BCKS, tulis Muliono melalui Whatsapp kepada JagadNews.online Rabu, 10 Juni 2026.
Tapi lanjutnya, jika ada kepala sekolah sudah dua periode dan hasil kinerjanya baik sekali maka dapat dimutasi ke sekolah lain untuk masa bakti satu periode. Dan kalau masih ada tersisa BCKS dilakukan saja secara bertahap, menunggu hasil penilaian kinerja kepala sekolah tahun berikutnya, karena pengawas sekolah salah satu tupoksinya adalah melakukan penilaian kinerja kepala sekolah pertahun yang melibatkan guru, siswa dan pengurus lomite, paparnya.
Dia juga mengaku kurang mengerti apa indikator penilaian kinerja yang dikatakan Kadis.
“Saya kurang tahu indikator apa yang digunakan pa Kadis, harusnya dibuka secara jelas dan disosialisasikan kepada sekolah agar mereka tahu indikator penilaiannya,” tutur mantan guru senior tersebut.
Saat ditanya soal dugaan konflik kepentingan (conflict of interest) atau kemungkinan dugaan gratifikasi, pria organisatoris ini menyatakan bisa saja ada dan kalau benar terjadi, hal ini dapat terungkap dugaan adanya gratifikasi kalau ada BCKS tidak diangkat jadi kepala sekolah, pasti mereka bernyanyi, tulisnya dengan emoji tertawa.
Sekadar diketahui bahwa, sejak berita ini booming fenomena tersebut menjadi viral puluhan media mainstream di jagad maya.
Hampir di sudut ruangan kantor dan kedai kopi hal ini di bahas secara hangat dan mengejutkan.
Sementara salah satu kepala sekolah di Makassar juga mengaku prihatin atas hebohnya pemberitaan di media massa.
Menurut kepala sekolah tersebut bahwa, di kota Makassar juga nyaris terjadi hal yang sama tetapi kayaknya tidak ada yang mundur, sebab dia menilai ini sebuah ‘jebakan’ yang bisa merusak tatanan organisasi. Seharusnya kalau kepala sekolah dinilai gagal menjadi leader yah di ganti/copot saja dan tidak perlu disuruh mundur.
Yah, namanya bawahan jika dianggap tidak sukses kinerjanya, tentu pimpinan punya hak mengambil langkah tegas untuk mencopot atau memutasi, dan bukannya dengan cara menyuruh mundur, sebab itu menjadi stigma ditengah masyarakat, ujarnya.
Jadi, sebenarnya permintaan mundur kepala sekolah dengan mengisi format memang benar adanya, termasuk di Makassar, justru teman di daerah yang banyak kecolongan, imbuhnya.
Kadis Pendidikan Sulsel yang dikonfirmasi media ini Rabu, 10 Juni 2026 soal dugaan konflik kepentingan hingga berita ini tayang belum merespon.(yun)
